Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Books’ Category

Being a Book Editor…

 

1.     I get to read everything I want—nah, not really.

2.     I almost lost appetite for actually paying money for books in hopes of getting reimbursements from work.

3.     I get to look smart in my spectacles but not necessarily nerdy, because I can justify a sexy librarian look.

4.     I can act like I know what you’re talking about because I look like I know stuff.

5.     I copy-edit everything, from manuscripts to books, from free magazines to newspaper headlines, from billboards to advertisements.

6.     I have an inner red pen, like, all the time.

7.     I have an itch every time you make grammatical/spelling/pronunciation mistakes.

8.     I smirk at ads copywriters who can’t spell and their works.

9.     I rant about idiots who think they can translate books.

10.I get to act like a god to my writers/translators—in my own cubicle.

11.I get to act smugly superior because I read unpublished manuscripts/proofs/advanced copies of world-class writers.

12.I actually know what “Starred Review” in Publishers Weekly really means: a hard earned label you can paste on books to boost sales, but the adjectives pertaining to the books are not necessarily understood by readers—or book people for that matter. The same goes to NYT Book Review.

13.I don’t always have time to do what I really, really want—like re-reading Agatha Christie’s mysteries.

14.I still can’t draw a line between work and pleasure.

15.I can name-drop but that doesn’t mean that I’ve read their books.

16.I have a knack for spotting sex scenes in romance novels just by flicking the pages.

17.I secretly re-read my works and my own writings, published and unpublished, to masturbate intellectually.

18.I adore Thesaurus.

19.I named my pet “Webster”.

20.I have secrets about me and books that I will never, ever tell you.

 

Advertisements

Read Full Post »

Kalau ada satu buku yang menggugah saya belakangan ini, itu adalah The Thirteenth Tale karya Diane Setterfield. Buku ini terbit tahun 2006, dan langsung melejit ke puncak tangga New York Times Bestseller tanggal 1 Oktober 2006, berkat pujian-pujian dari advanced proof-nya. Amazon memilihnya sebagai Editor’s Pick tahun 2006, dan para pelanggan Amazon menobatkannya sebagai Best Book of 2006.  

Tapi sebenarnya apa bagusnya buku ini? 

Oke. Bayangkan kisah ini: Dongeng di dalam dongeng, rahasia, kebenaran yang setengah-setengah, dusta (banyak sekali dusta), yang melibatkan sebuah rumah besar yang bobrok, lapuk, dan nyaris ambruk, anak gadis yang cantik dan keras kepala, kakak lelakinya yang sakit jiwa, pengurus rumah yang rabun dan nyaris tuli, tukang kebun, pengasuh anak, dan anak perempuan kembar yang liar dan hidup dalam dunia mereka sendiri. Dan, semua itu dipadu dalam jalinan prosa indah yang dituturkan oleh Vida Winter, penulis Inggris paling laris, yang kerap memberikan dongeng menawan tentang kehidupannya, hanya saja tak ada satu pun yang benar. Namun, karena merasa dirinya telah menjelang ajal, Miss Winter mengundang Margaret Lea, si kutu buku penulis biografi—yang juga memiliki hantunya sendiri—untuk menuliskan cerita yang sesungguhnya.

Tentu saja proses mengurai fakta-fakta tidaklah menyenangkan, bagi kedua wanita itu. Fakta, kebenaran, memang sering kali tidak nyaman. Terkadang, kita lebih memilih dusta, dongeng, apa pun yang memberikan rasa aman dan tenteram. Seperti kutipan indah di bawah ini, yang saya ambil dari bab pertama:

“My gripe is not with lovers of the truth but with truth herself. What succor, what consolation is there in truth, compared to a story? What good is truth, at midnight, in the dark, when the wind is roaring like a bear in the chimney? When the lightning strikes shadows on the bedroom wall and the rain taps at the window with its long fingernails? No. When fear and cold make a statue of you in your bed, don’t expect hard-boned and fleshless truth to come running to your aid. What you need are the plump comforts of a story. The soothing, rocking safety of a lie.” 

“Kebencianku bukan terhadap pencinta kebenaran, melainkan pada kebenaran itu sendiri. Bantuan apa, penghiburan macam apa yang terkandung dalam kebenaran, jika dibandingkan dengan dongeng? Apa gunanya kebenaran, pada tengah malam, dalam kegelapan, ketika angin meraung seperti beruang dalam cerobong asap? Ketika kilat menerakan bayang-bayang di dinding kamar tidur dan hujan mengetuk-ngetuk jendela dengan kuku-kukunya yang panjang? Tidak. Ketika perasaan takut dan dingin membekukanmu menjadi patung di tempat tidur, jangan berharap kebenaran dengan tulangnya yang keras berbungkus kulit akan datang menolongmu. Karena yang kaubutuhkan adalah kenyamanan sebuah dongeng. Dusta yang memberikan perasaan aman yang membuai dan menenangkan.”

Dan pada akhirnya, setelah fakta-fakta akhirnya terungkap tanpa dapat dibendung lagi, Vida dan Margaret mau tak mau harus menguatkan diri menghadapi hantu-hantu yang selama hidup membayangi langkah mereka—meski terkadang disisihkan ke tempat yang paling jauh, tapi selalu ada: geming, sabar, menanti.

Hm.

Bagi pencinta buku, penyuka literatur, takkan sulit mengidentifikasi diri dengan para tokohnya. Vida Winter yang penulis novel, yang selama dua tahun memberikan 19 versi kisah hidupnya kepada wartawan yang mewawancarainya, dan ketika dikonfrontasi hanya mengatakan, “Itu memang profesiku. Aku ini pendongeng.” Kemudian ada Margaret Lea, si kutu buku yang sejak kecil hidup di antara buku-buku antik milik ayahnya, mengatakan, “Tentu saja aku lebih menyukai buku daripada manusia.”

Pada akhirnya, kecintaan pada buku dan literaturlah yang membuat buku ini berbeda. Dan meskipun fakta, kebenaran, kenyataan sering kali menyakitkan kala terungkap, ingatlah bahwa selalu ada kenikmatan dan kepuasan ketika kita mengetahuinya.  

Buku ini akan diterbitkan dalam bahasa Indonesia dengan judul Dongeng Ketiga Belas. Hak pembuatan filmnya telah dibeli Heyday Films, yang memproduksi film-film Harry Potter, namun belum ada kelanjutan beritanya.

cover-the-thirteenth-tale

Cover edisi bahasa Indonesia, karya emte @ http://anakharam.multiply.com/

Read Full Post »

I am Ronya

Kutipan yang indah dari buku anak-anak yang, meski jarang saya baca, kali ini sanggup melumerkan hati saya.

Dari Ronya Anak Penyamun oleh Astrid Lindgren:

"Kuhirup dalam-dalam musim panas ini, seperti lebah-lebah hutan menghirup madu. Kukumpulkan dalam batinku sebongkah besar musim panas, dan aku akan hidup dari bongkah besar itu apabila… apabila sudah bukan musim panas lagi."

Lalu, ketika Ronya dan Birk sedang menjelang bahaya:

…kedua anak itu bercakap-cakap; tentang hal-hal yang perlu dikatakan sebelum terlambat. Tentang betapa baiknya begitu menyayangi seseorang, sehingga tidak perlu takut menghadapi yang terberat.

Apalah artinya menghadapi yang terberat, jika kita saling menyayangi? Manakala musim dingin tiba, kita akan hidup dari kenangan musim panas yang menghangatkan jiwa.

Read Full Post »

Grisham Did It Again

The AppealThe Appeal
John Grisham
Doubleday
January 2008

Mr. Grisham did it again. He’s back in the game, on his familiar turf, the thing that made him a rich man.

Unusually, the book started with a verdict. If you want to know what happens after the end of Erin Brokovich (Julia Roberts) and A Civil Action (John Travolta), this is it. The case was Jeanette Baker v. Krane Chemical. Baker, the widow, survived her husband and son, who died of cancer which supposedly caused by irresponsible and illegal chemical disposal by Krane Chemical in a small town in Mississippi. The disposal and spillage contaminated the water that run through their town, and so great was the rates of cancer—15 times above the national average—that their Cary County was infamously known as Cancer County.

This is a story about David versus Goliath, where David was the dejected victims and their lawyers who had lost all their money in pursuit of justice, and Goliath was Krane Chemical, the evil corporate America, with Carl Trudeau as the owner, a Wall Street predator.

But actually… Goliath was even bigger than that. Because Trudeau found the supreme court judges were not friendly enough, he decided to buy a judicial seat in the upcoming election. Millions and millions of dollar poured down to launch the oblivious perfect-and-straight-to-the-core candidate, and tricks after dirty tricks of campaigning were whipped out, without the voters having a single clue what was behind all the drama.

In the course of reading about the campaign, I sometimes forgot about Jeanette Baker and the victims of Cancer County. Thus was the state of politics, in my humble opinion. The people is forgotten and the big goal is on the main stage, lashing out pretty but poisonous promises to unsuspecting voters, not unlike a wolf in sheep’s clothing.

Mr. Grisham was adamant to show us the uglier facade of politics. Sometimes he got a little carried away picturing the goody-goody David and the heartless Trudeau. But hey, what’s a fiction without such extremes?

All in all, it’s a good one from Mr. Grisham, who had distracted over the years to the land of baseball (Bleachers), Italiano la dolce vita (The Broker), baseball plus Italiano la dolce vita (Playing for Pizza), and nonfiction (The Innocent Man). This is a legal thriller dripping with sarcasms and so much personal view on politics and justice system. Never again you will see electoral process and politics the same way.

The rule is: If the court was unfriendly, buy a seat and select your own judge.

Read Full Post »

Potter Books Leaked

Looks like some hundreds people had already devoured their 7th Potter book. Read it here, in Publishers Weekly.

Sad. I feel for Scholastic. And J.K.

Read Full Post »

At July 19, 2007, two days before the official release date of Harry Potter and the Deathly Hallows, Michiko Kakutani had already bought, read, and reviewed the book in The New York Times. This seventh and last installment is awaited unpatiently by fans all over the world. This will also bring about the closure of the ten-year saga, marks the end of it all, as J.K. Rowling is definite about not writing another Potter book.

From what I read, The Boy Who Lived will probably survive the showdown with He Who Must Not Be Named, but he will surely lose many of his compatriots. I’m sure many readers who had shedded tears when Harry lost Sirius in Book 5, will again, and not just once, reach out for a box of Kleenex. It’s either Ron or Hermione, or both, or will Ginny have her chance in love again. (I privately root for Ginny, the-ugly-duckling-turn-red-head-hottie.) And of course, the biggest mistery of them all: Is Snape bad or good?

I probably won’t have time to read it right away at July 21, 00:01 am, I rather enjoy the Indonesian translations. But this is a once-in-a-lifetime moment that I surely don’t want to miss.

Read Full Post »

Einstein’s Dreams

I just realized I never posted this review, one of my favorite books I’ve read so far, and one of the most beautiful. Here you go.

Ini salah satu buku favorit saya. Terdiri atas penggalan-penggalan mimpi, atau imajinasi, tepatnya, tentang waktu, dan apa yang terjadi kalau waktu tidak berjalan seperti normalnya waktu yang kita jalani sekarang ini. Kalau kamu membayangkan suatu cerita yang berjalan dengan kronologi waktu tertentu, misalnya dari awal sampai akhir, atau mungkin dengan flashback sesekali, segeralah tinggalkan harapan itu sebelum membaca buku ini.

Misalnya begini. Satu bab yang diberi judul 14 April 1905. (Cuplikan ini saya ambil dari buku terjemahan, meskipun saya membaca versi bahasa Inggrisnya.)

"Andaikan waktu adalah suatu lingkaran, yang mengitari dirinya sendiri. Demikianlah, dunia mengulang dirinya sendiri, setepat-tepatnya, dan selama-lamanya.
Jadi semua kejadian akan terulang lagi pada suatu titik di masa depan, tanpa disadari para pelakunya. Barangkali mereka samar-samar merasa ingat, tapi tak pernah tahu pasti. Setiap ciuman, setiap jabat tangan, setiap tangisan, akan berulang."

Ada bab lain di mana waktu adalah dimensi yang bisa dilihat. Orang yang sudah renta bisa melihat masa kecilnya; dia tinggal memalingkan kepalanya ke belakang. Kalau ia menatap ke depan, ia akan melihat kematian.

Ada pula bab yang mengandaikan semua orang tahu dunia akan berakhir pada tanggal tertentu. Maka yang terjadi, semua orang melakukan kebaikan, demi waktu yang tinggal sedikit itu.

Di dunia lain, waktu hanya berupa bayang-bayang. Semuanya tergantung-gantung di udara.

Buku ini mengajak kita berangan-angan, berandai-andai, membayangkan dunia yang sama sekali berbeda dengan kondisi dan asumsi dunia yang kita jalani ini. Membuat kita bertanya-tanya apakah ada manusia "dunia lain" yang membayangkan waktu seperti yang kita jalani, linear, berjalan terus ke depan. Atau barangkali kita malah akan bertanya-tanya: Siapa tahu sebenarnya kita bisa kembali ke masa lalu? Hanya saja dalam dunia ini kita tidak bisa seketika itu saja melihat dan melompat ke belakang?

Apa pun yang terjadi, senang rasanya memanjakan imajinasi, meski bukan imajinasi kita sendiri. Di sinilah kita akan merasa berbahagia, karena tidak semua orang merdeka, bahkan dalam imajinasinya.

Terjemahan buku ini berjudul Mimpi-Mimpi Einstein, KPG, 1999. Jangan terlalu khawatir buku ini akan membahas teori fisika Einstein yang njelimet. Kita justru akan banyak belajar tentang hipotesis fisika melalui karya literatur.

Read Full Post »

Older Posts »